BRMP Agroklimat Ajak Petani Antisipasi Kemarau 2026 untuk Amankan Produksi Pertanian
Bogor — Para pelaku sektor pertanian dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan lebih kering dari kondisi normal. Berdasarkan informasi dari BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami percepatan awal musim kemarau dengan puncak yang terjadi sekitar Agustus 2026, serta durasi kekeringan yang lebih panjang di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai dampak terhadap sektor pertanian, di antaranya penurunan ketersediaan air irigasi, terutama pada lahan tadah hujan dan daerah dengan sumber air terbatas. Selain itu, produktivitas tanaman, khususnya komoditas yang membutuhkan banyak air seperti padi, berisiko menurun. Cuaca kering juga dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit tertentu serta memperbesar risiko gagal panen apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Sebagai langkah mitigasi, BRMP Agroklimat merekomendasikan sejumlah strategi adaptasi. Pertama, penyesuaian jadwal tanam agar fase pertumbuhan tanaman yang membutuhkan banyak air tidak bertepatan dengan puncak musim kemarau. Petani juga didorong memanfaatkan informasi kalender tanam melalui sistem SIAP TANAM guna menentukan waktu tanam yang lebih tepat.
Kedua, adaptasi praktik budidaya dengan penggunaan varietas tahan kekeringan atau berumur genjah, serta penerapan mulsa untuk menjaga kelembapan tanah dan mengurangi penguapan air.
Ketiga, optimalisasi Infrastruktur Panen Air Pertanian (IPAP) seperti embung, dam parit, long storage, dan pompanisasi. Infrastruktur ini berfungsi untuk menampung air saat musim hujan yang kemudian dapat dimanfaatkan pada saat musim kemarau.
Keempat, penerapan teknologi irigasi hemat air seperti irigasi tetes, sprinkler, dan irigasi berselang yang mampu menyalurkan air secara lebih efisien langsung ke area perakaran tanaman, sehingga kehilangan air dapat diminimalkan.
Melalui langkah-langkah tersebut, BRMP Agroklimat berharap para petani dapat tetap menjaga produktivitas dan ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Kolaborasi antara petani, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi risiko kekeringan yang semakin meningkat.